Setiap tahun, pada tanggal 23 bulan ke-12 kalender Imlek, keluarga-keluarga Vietnam melakukan ritual untuk mengantar Dewa Dapur datang ke surga untuk memberikan laporan. Ritual ini berlangsung pada saat berakhirnya tahun lama dan dimulainya persiapan untuk Hari Raya Tahun Baru Imlek (Hari Raya Tet).
Pasar-pasar tradisional menjadi ramai menjelang Hari Raya Tet. Foto: Le Chi/VOV5 |
Sejak dini hari, suasana di pasar-pasar tradisional sudah mulai ramai. Warga sibuk berbelanja bunga segar, sajian, uang kertas ritual, ikan mas, dan berbagai perlengkapan penting lainnya untuk nampan persembahan kepada Dewa Dapur. Phung Thi Thao, warga Kecamatan Hoang Mai, setiap tahun pergi ke pasar pagi-pagi sekali bersama anak-anaknya.
“Setiap tahun, saya pergi ke pasar sejak dini hari bersama anak-anak saya untuk menyiapkan persembahan. Persembahan meliputi bunga, ikan mas, sajian, dan buah-buahan. Saya berbelanja dengan anak-anak saya agar mereka dapat belajar lebih banyak tentang upacara pemujaan Dewa Dapur, dan mereka sangat menikmatinya”.
Suasana jual beli yang ramai ini menandai bahwa Hari Raya Tet sudah semakin dekat, membawa antusiasme di hari-hari terakhir menjelang pergantian tahun.
Ikan mas adalah persembahan yang tidak bisa kurang ketika mengantarkan Dewa Dapur. Foto: VOV |
Ikan mas merupakan persembahan yang tidak boleh terlewatkan dalam upacara pemujaan Dewa Dapur. Menurut legenda, ikan mas adalah satu-satunya sarana yang membawa Dewa Dapur ke surga. Gambaran ikan mas yang melompati gerbang Vu (jalur pegunungan dan jeram yang berbahaya dalam legenda-legenda Timur) dan menjelma menjadi naga mengandung makna sublimasi, melambangkan semangat mengatasi kesulitan, ketekunan, ketahanan, dan aspirasi untuk mencapai sukses. Melepaskan ikan mas menjelang upacara pemujaan Dewa Dapur juga menunjukkan belas kasih, dan harapan akan harmoni antara manusia dan alam.
Dalam upacara pemujaan Dewa Dapur, nampan hidangan persembahan merupakan bagian terpenting. Meskipun sibuk, persiapan nampan hidangan persembahan untuk Dewa Dapur tidak pernah dilupakan. Menurut Phung Thi Thao, ritual sederhana tersebut merupakan caranya untuk melestarikan tradisi keluarga.
Saya melakukan ritual ini setiap tahun karena orang tua saya mengajari saya cara menyiapkan nampan hidangan persembahan sejak saya kecil. Sekarang, saya menginginkan agar anak-anak saya dapat meneruskan adat istiadat tradisional ini. Mereka juga sangat tertarik dan antusias saat menyiapkan hidangan tersebut.
Nampan hidangan persembahan kepada Dewa Dapur. Foto: VOV |
Sementara itu, bagi Nguyen Ngoc Linh, nampan hidangan persembahan untuk Dewa Dapur tetap ia lestarikan dari waktu ke waktu.
Setiap tahun, keluarga saya menyiapkan satu nampan hidangan untuk mengantar Dewa Dapur sebagai rasa syukur karena menjaga keluarga kami sepanjang tahun. Seiring waktu, hidangan-hidangan tersebut tetap tidak berubah, selalu merupakan hidangan tradisional dalam keluarga saya, seperti: sup kentang dengan tulang babi rebus, sayuran rebus, sayuran tumis, sepiring ayam rebus, dan tidak bisa kurang satu sepiring nasi ketan.
Nampan hidangan tersebut tidak hanya merupakan persembahan kepada para dewa, tetapi juga sarana penghubung antar generasi dalam setiap keluarga Vietnam. Bagi banyak orang, nilai luhur dari upacara pemujaan Dewa Dapur tidak terletak pada jamuan mewah, tetapi pada ketulusan. Dari perspektif budaya, Profesor Pham Hong Tung, dari Dewan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, Universitas Nasional Hanoi, mengatakan:
Di setiap zaman, persembahan kepada para dewa atau nenek moyang, yang terpenting bukanlah kemewahan, melainkan ketulusan hati. Pengabdian tulus kita adalah persembahan yang paling berharga dan mulia, yang diarahkan kepada hal-hal yang baik.
Dalam persepsi masyarakat Vietnam, upacara pemujaan Dewa Dapur bukan sekadar ritual untuk mengantar para dewa ke surga, melainkan sebuah kesempatan bagi setiap keluarga untuk berkumpul. Pada upacara ini, setiap orang memiliki momen untuk merenungkan tahun yang telah berlalu, menutup kekhawatiran dari tahun yang lama, dan menyongsong tahun baru dengan penuh keyakinan dan harapan./.