Ba Khia Asin – Pusaka Budaya Non-Bendawi Masyarakat Provinsi Ca Mau

Tran Hieu, Van
Chia sẻ
(VOVWORLD) - Provinsi Ca Mau mempunyai berbagai kuliner khas, di antaranya “Ba Khia Asin” merupakan salah satu makanan yang khas. Ba khia dengan nama ilmiah Sesarma mederi adalah sebuah jenis kepiting yang bercapit besar, di punggungnya memiliki 3 garis. Kerajinan “Ba Khia Asin” juga diakui sebagai kerajinan pusaka tingkat nasional. Daerah Rach Goc di Kotamadya Rach Goc, Kabupaten Ngoc Hien adalah tempat yang membawa ragam Ba Khia Asin menjadi terkenal. 
Kerajinan mengasinkan Ba Khia sudah berada sejak lama di Daerah Ca Mau, satu provinsi pesisir di ujung selatan Vietnam. Ini merupakan kerajinan tradisional, diturunkan dari generasi ke generasi. Saat ini kerajinan Ba Khia asin tetap berkembang di berbagai kabupaten pesisir Provinsi Ca Mau seperti: Dam Doi, Phu Tan, Nam Can, dan Ngoc Hien. Namun, kerajinan Ba Khia asin masih populer dan sangat dikembangkan di Kotamadya Rach Goc, Kabupaten Ngoc Hien. Ini juga merupakan daerah penangkapan Ba Khia yang terkenal lezatnya, turut membawa produk Ba Khia asin dikenal luas.
Ba Khia Asin – Pusaka  Budaya Non-Bendawi Masyarakat Provinsi Ca Mau - ảnh 1Ba Khia  merupakan makanan khas  di Provinsi Ca Mau (Foto: VOV) 

Menurut warga setempat, Ba Khia di Kotamadya Rach Goc paling lezat karena sumber pakan dan kondisi alam di sini. Nguyen Hong Dam, orang yang sudah bekerja kerajinan mengasinkan Ba Khia selama bertahun-tahun mengatakan: 

“Banyak  kabupaten di Provinsi Ca Mau dan Provinsi Bac Lieu memiliki Ba Khia. Ba Khia Rach Goc terkenal karena topografi di sini. Ba Khia terkenal karena di sini sumber pakannya seperti pohon bakau, phon api-api atau alluvium sehingga telurnya berwarna kuning. Ia memakan makanan khas dari alam, oleh karenanya dagingnya sangat enak, manis, dan padat.” 

Bertahun-tahun yang lalu, keunggulan Ba Khia sangat beranekaragam. Hingga musim Ba Khia – sekitar bulan Tujuh hingga Semblian kalender imlek – warga menangkap Ba Khia dan membawanya dengan kano. Karena tidak mengonsumsinya semua, warga berpikir cara mengasinkan Ba Khia agar dapat diawetkan lebih lama. Setelah bertahun-tahun, langkah-langkah dasar pengasinan Ba Khia tetap tidak berubah. Dulu saat menangkap Ba Khia, warga membawa guci air garam yang sudah jadi, setelah menangkap Ba Khia, hanya mencucinya bersih, kemudian memasukkan ke air garam dan bawa kembali. Besok pagi diangkat hingga kering, kemudian mengasinkannya kembali dan tutup rapat untuk dimakan secara bertahap. 

Saat ini, warga atau basis bisnis Ba Khia setelah mencuci Ba Khia segar secara bersih, mereka tidak untuk segera mengasinkan, tetapi membiarkan Ba Khia menjadi haus. Kemudian dimasukkannya ke dalam guci air garam pekat yang sudah jadi, Ba Khia akan lebih banyak meminum air garam. Ini merupakan langkah sangat penting karena semakin banyak Ba Khia minum air garam akan semakin baik. Ba Khia akan tahan lebih lama dan membuat rasanya lebih meresap. Luong Van Binh dari keluarga dengan tradisi panjang memproduksi Ba Khia asin di Kotamadya Rach Goc, Kabupaten Ngoc Hien mengatakan:

“Air  digunakan hanya sekali, tidak digunakan kembali. Kemudian, Ba Khia dicuci bersih dan diganti airnya. Air garam harus pekat, dengan kualitas yang cukup, air ragam ringan akan merusak, oleh karenanya cara pembuatan air rendaman Ba Khia sangat penting.”

Ba Khia asin bertahan sekitar sepekan untuk bisa dimakan. Ketika memakannya, biasanya dicampur dengan berbagai bumbu, seperti jeruk lemon, bawang putih, cabai, gula, dan sebagainya. Dengan cara demikian maka Ba Khia tidak akan terlalu asin dan akan lebih enak.

Ba Khia Asin – Pusaka  Budaya Non-Bendawi Masyarakat Provinsi Ca Mau - ảnh 2Produk Ba Khia asin dari warga Ca Mau selalu tidak cukup untuk memenuhi permintaan (Foto: VOV)

Ba Khia yang diasinkan dibawa ke pasar oleh warga Rach Goc dengan 2 produk, yaitu Ba Khia asin utuh dan Ba Khia asin siap pakai. Produk Ba Khia asin Provinsi Ca Mau sangat disukai oleh pelanggan, sumber pasokannya selalu tidak cukup untuk memenuhi permintaan. La Quoc Khanh, Wakil Ketua Asosiasi Petani Kabupaten Ngoc Hien menjelaskan:

“Ba Khia hidup secara alami di hutan. Lahir dengan sendirinya dan tumbuh besar, kemudian warga menemukan dan menangkapnya untuk mengolahnya menjadi Ba Khia asin, yang apabila dicoba, enak rasanya. Orang Vietnam Selatan sangat suka makan Ba Khia asin, tetapi jumlah Ba Khia tak menentu, berbeda pada setiap musim. Oleh karena itu, berbagai perusahaan Ba Khia perlu berkoordinasi dengan badan fungsional untuk membina brand bagi Ba Khia.”

Pada medio 2020, kerajinan Ba Khia asin dari warga Ca Mau telah diakui sebagai pusaka budaya nonbendawi nasional. Sejak itu produk Ba Khia asin semakin dikenal. Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Ca Mau  bersama dengan Komite Rakyat Kabupaten Ngoc Hien tengah berencana membangun berbagai desa kerajinan Ba Khia asin tradisional, mengiklankan dan memperkenalkan produk untuk melayani kebutuhan para wisatawan.

Komentar